MENILAI KINERJA PERUSAHAAN SECARA EFEKTIF DARI LAPORAN KEUANGAN

Bagi beberapa para mitra bisnis, membuat sebuah laporan keuangan perusahaan menjadi sebuah aktivitas yang sangat sulit dilakukan karena kurang kedisiplinan dalam melakukan pencatatan terhadap aktivitas penerimaan dan pengeluaran uang dari kas perusahaan. Ataupun mitra bisnis merasa tidak memiliki kemampuan dalam menyusun laporan keuangan yang baik dan benar, maka hal tersebut masih bisa dibantu dengan penggunaan software akunting, yang mana software accounting dapat disesuaikan dengan jenis dan kebutuhan masing-masing perusahaan.

Terlebih karena laporan keuangan memiliki beberapa nilai kentungan dan kelebihan yang dapat dirasakan dampaknya oleh manajemen atau pemilik perusahaan, antara lain:

  • Menjadi alat pengukuran kinerja perusahaan

Dengan adanya laporan keuangan perusahaan, maka semua informasi tentang aliran pendapatan dan pengeluaran dalam perusahaan dicatat dengan baik dengan valid dan transparan. Sehingga laporan keuangan juga dapat menjadi dasar penilaian dari kinerja unit usaha dan tim karyawan yang ada di dalamnya.

  • Membuat langkah-langkah perbaikan perusahaan

Dengan mengetahui dimana letak inefisiensi perusahaan maka langkah-langkah perbaikan dapat dilakukan dengan lebih baik dan tepat sasaran. Dengan adanya laporan keuangan maka akan jelas terlihat dimana terjadinya pos-pos perusahaan dengan pengeluaran atau pembiayaan yang besar sehingga perlu dihemat, dan sebagainya.

  • Menjadi dasar informasi untuk melakukan proyeksi di masa depan

Dengan adanya data keuangan akan membantu manajemen dan pemilik perusahaan dalam menentukan target dan visi untuk pengembangan bisnis yang ingin didapatkan di masa depan. Terutama dalam melakukan pembelian aktiva atau melakukan pinjaman ke pihak lain harus disesuaikan dengan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan yang lebih baik lagi.

  • Meningkatkan kredibilitas dan akuntabilitas perusahaan

Untuk beberapa investor, laporan keuangan yang baik bisa menjadi dasar dalam melakukan penanaman modal kepada perusahaan tersebut. Namun bukan berarti hal ini menyebabkan laporan keuangan dapat dipoles dengan angka-angka positif yang baik sehingga perusahaan dapat dinilai lebih tinggi karena apabila sampai ketahuan maka hal ini dapat dituntut oleh pengadilan.

  • Untuk fungsi-fungsi lainnya seperti sebagai dasar perhitungan besar nilai pajak kepada pemerintah, dasar pengajuan kredit ke bank/ lembaga lainnya, dan sebagainya.

Pada umumnya, laporan keuangan yang perlu dibuat perusahaan mengandung 5 komponen laporan berbeda namun memiliki hubungan satu dengan yang lainnya, sebagai berikut:

  1. Neraca Keuangan

Laporan ini untuk menunjukkan posisi keuangan perusahaan, terutama pada keseimbangan pada jumlah aktiva (asset) dan kewajiban (hutang) dan ekuitas (modal) yang dimiliki oleh perusahaan pada suatu tanggal tertentu.

Untuk urutan aktiva lancar disajikan berdasarkan ukuran likuiditas sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh temponya.

  1. Laporan Laba Rugi

Laporan ini berisi tentang ringkasan aktivitas usaha perusahaan untuk periode tertentu untuk melaporkan hasil usaha bersih atau kerugian yang timbul dari kegiatan usaha dan aktivitas lainnya.

  1. Laporan Arus Kas

Laporan ini untuk menunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas sesuai aktivitas perusahaan selama periode tertentu dengan digolongkan menjadi aktivitas operasional, investasi, dan pembiayaan. Laporan ini selain mencerminkan bagaimana keadaan sesungguhnya dari perusahaan juga berguna dalam penentuan besar dividen (bila ada) untuk dibagikan. Sehingga walaupun sedang merugi, namun perusahaan masih dapat hidup selama arus kasnya positif, selain itu perusahaan memiliki prospek pertumbuhan yang bagus apabila memiliki aliran free cash flow nya yang besar.

  1. Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan ini untuk menunjukkan perubahan yang menggambarkan peningkatan atau penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama periode pelaporan.

  1. Catatan Laporan Keuangan Perusahaan

Bagian ini berisi tentang penjelasan mengenai gambaran umum perusahaan, ikhtiar kebijakan akuntansi, penjelasan pos-pos laporan keuangan dan informasi penting lainnya.

Sedangkan dalam melakukan analisa dan review pada informasi-informasi yang ada di dalam laporan keuangan tersebut diperlukan rasio-rasio keuangan sebagai indikator penilaian apakah perusahaan sedang berjalan dengan baik atau buruk. Di samping itu, rasio-rasio tersebut dapat dibandingkan dengan laporan keuangan dari periode sebelumnya sampai  5 tahun ke belakang untuk mengetahui perkembangan bisnis perusahaan. Lalu pelaku bisnis juga dapat membandingkan dengan rasio dari perusahaan-perusahaan lainnya di sektor industri yang sejenis untuk mengetahui bagaimana posisi perusahaan di dalam kompetisi pasar yang ada.

  1. Rasio Likuiditas

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kemampuan finansialnya dalam jangka pendek.

Beberapa jenis rasio likuiditas yang penting antara lain sebagai berikut:

a. Current Ratio

Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban finansial jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancar, dengan cara menghitung sebagai berikut:

Current Ratio = Aktiva Lancar / Hutang Lancar * 100%

b.Cash Ratio

Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban financial jangka pendek dengan menggunakan kas yang tersedia dan berikut surat berharga atau efek jangka pendek, berikut formulanya:

Cash Ratio = ( Kas + Efek ) / Hutang Lancar * 100%

c. Quick Ratio atau Acid Test Ratio

Adalah rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban financial jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancar (Liquid Assets), dengan formula sebagai berikut:

Quick Ratio = ( Kas + Efek + Piutang ) / Hutang Lancar * 100%

Adapun Nilai Ideal dari ketiga analisa rasio likuiditas di atas adalah minimum sebesar 150%, dan semakin besar maka akan semakin baik untuk menunjukkan bahwa perusahan dalam kondisi yang sehat.

  1. Rasio Profitabilitas atau Rentabilitas

Rasio untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan nilai penjualan, aktiva, dan modal sendiri. Perlu dipahami bahwa semakin tinggi nilai rasio profitabilitas maka akan semakin baik dan bisa dibandingkan dengan nilai rata-rata dari industri sejenis di pasar

a. Gross Profit Margin

Rasio ini berfungsi untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba kotor dari total penjualan.

Gross Profit Margin = (Penjualan Netto – Harga Pokok Penjualan) / Penjualan Netto * 100%

 b. Operating Income Ratio

Rasio ini untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba operasi sebelum dikurangi bunga dan pajak dari penjualan.

Operating Income Ratio = Penjualan Netto – Harga Pokok Penjualan – Biaya Administrasi & Umum (EBIT) / Penjualan Netto * 100%

 c. Net Profit Margin

Rasio ini berfungsi untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba bersih dari penjualan.

Net Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) / Penjualan Netto * 100

d. Earning Power of Total Investment

Rasio ini untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola modal yang dimiliki yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktivas untuk menghasilkan keuntungan bagi investor dan pemegang usaha.

Earning Power of Total Investment = Pendapatan sebelum Bunga dan Pajak (EBIT) / Jumlah Aktiva * 100%

e. Rate of Return Investment (ROI) atau Net Earning Power Ratio

Rasio ini berfungsi untuk mengukur kemampuan modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan pendapatan bersih.

Rate of Return Investment (ROI) = EAT / Jumlah Aktiva * 100%

f. Return on Equity (ROE)

Rasio untuk mengukur kemampuan ekuitas untuk menghasilkan pendapatan bersih

Return on Equity (ROE) = EAT / Jumlah Equity * 100%

g. Rate of Return on Net Worth atau Rate of Return for the Owners

Rasio ini untuk mengukur seberapa besar dari kemampuan modal sendiri yang diinvestasikan dapat memberikan pendapatan bagi pemegang saham.

Rate of Return on Net Worth = EAT / Jumlah Modal Sendiri * 100%

  1. Rasio Solvabilitas atau Leverage Ratio

Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua kewajiban finansial jangka panjang. Perlu diingat bahwa semakin tinggi nilai rasio ini maka kemampuan perusahaan akan semakin buruk dalam membayar kewajiban jangka panjangnya, sehingga diusahakan maksimal nilainya sebesar 200%.

Adapun beberapa jenis rasio solvabilitas yang dapat digunakan sebagai berikut

a. Total Debt to Assets Ratio

Rasio yang berfungsi untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menjamin hutang-hutangnya dengan aktiva yang dimilikinya.

Total Debt to Assets Ratio = Total Hutang / Total Aktiva * 100%

b. Total Debt to Equity Ratio

Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai oleh pihak kreditur dibandingkan dengan pemilik ekuitas perusahaan sendiri.

Total Debt to Assets Ratio = Total Hutang / Modal Sendiri * 100%

  1. Rasio Aktifitas atau Activity Ratio

Rasio ini untuk mengukur seberapa efektif perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya dimana semakin tinggi nilai rasio aktifitas maka perusahaan akan semakin baik. Beberapa jenis Rasio Aktifitas yang biasa digunakan antara lain:

a. Total Assets Turn Over

Digunakan untuk mengukur tingkat perputaran total aktiva terhadap penjualan.

Total Asset Turn Over Ratio = Penjualan / Total Aktiva * 100%

b. Working Capital Turn Over

Rasio ini berfungsi untuk mengukur tingkat perputaran modal kerja bersih (dimana aktiva lancar – hutang lancar) terhadap penjualan selama suatu periode siklus kas dari perushahaan.

Working Capital Turn Over Ratio = Penjualan / Modal Kerja Bersih * 100%

c.  Fixed Assets Turn Over

Rasio untuk mengukur perbandingan antara aktiva tetap yang dimiliki perusahaan terhadap total penjualan, hal ini berguna untuk mengevaluasi seberapa besar tingkat kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aktiva tetap yang dimiliki secara efisien dalam rangka meningkatkan pendapatan.

Fixed Assets Turn Over Ratio = Penjualan / Aktiva Tetap * 100%

d. Inventory Turn Over

Rasio digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi perusahaan dalam mengelola perputaran persediaan yang dimiliki terhadap penjualan.

Inventory Turn Over Ratio = Penjualan / Persediaan * 100%

Apabila rasio semakin tinggi maka semakin baik dalam mengelola persediaan dengan efisien.

e. Average Collection Period Ratio

Angka ini untuk mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan dalam menerima seluruh tagihan dari konsumen, dengan formula seperti berikut:

Average Collection Period Ratio = Piutang * 365 / Penjualan * 100%

 f. Receivable Turn Over

Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat perputaran piutang dengan membagi nilai penjualan kredit terhadap piutang rata-rata.

Rumus perhitungannya sebagai berikut:

Receivable Turn Over Ratio = Total Penjualan / Piutang Rata-Rata * 100%

Apabila rasio semakin tinggi maka akan semakin baik dan menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang yang rendah.

Semoga hal-hal yang terkait dengan laporan keuangan perusahaan dalam artikel ini dapat berguna bagi para mitra bisnis sekalian. Apabila masih ada hal-hal yang perlu ditanyakan atau dibantu dalam penyusunan laporan keuangan yang baik dapat menghubungi kami di 0818521172 atau email ke : groedu@gmail.com. (dari berbagai sumber)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s