CARA SUKSES MEMASARKAN PRODUK FESYEN READY TO WEAR

Hal itulah yang menjadi pendorong masifnya pergerakan #SupportLocalBrand di dunia dalam jaringan (daring). Pergerakan tersebut turut melahirkan tren label pakaian siap pakai produksi mandiri (self-manufactured ready to wear/RTW). Label-label RTW lokal bermunculan bak cendawan di musim hujan, baik di dunia maya maupun pusat-pusat perbelanjaan. Berbeda dengan industri garmen/fast fashion yang memproduksi dengan mesin dalam skala besar, label-label ini menghasilkan produk yang lebih eksklusif.  Menariknya, pendiri label-label RTW tersebut didominasi oleh desainerdesainer muda berbakat yang belum terlalu berpengalaman di dunia high fashion.

Mereka menjalankan labelnyasecara mandiri, dengan modal danceruk pasar yang dicari sendiri.Tren mendirikan label selfmanufacturedRTW belakangan jugamenjangkiti para selebritas dandesainer senior di Tanah Air. Untukbisa bersaing dan menjangkausegmen pasar yang lebih luas,mereka membuat segmen labelpakaian siap pakai dengankonsep yang unik.Salah satu pelaku bisnis RTWyang sudah cukup punya namadi jagad fesyen lokal adalahTantri Namirah. Kekasih HaykalKamil itu mendirikan NamirahThe Label, sebuah brand yangterkenal dengan cutting yangedgy dan dominasi palet warnamonokrom yang elegan.Bermula dari pengalamannyamendesain untuk label RTWmilik Zaskia Adya Mecca,Tantri memulai sendirilabelnya setahun terakhir danlangsung mendapatkanrespons positif dari pasar.

Kematangan konsep yangdimiliki untuk labelnyamenjadi magnet penarikkonsumen.“Dari awal saya sudahtahu apa yang saya inginkanuntuk label ini. Meskipunsebelumnya saya bekerjauntuk Mecccanism byZaskia Adya Mecca, yangkhusus memproduksimodest wear, saya tetapmemiliki ciri khassendiri untuk labelsaya,” ujarnya.Ciri khas RTWmilik Tantriadalah fokus padaproduk celana.Alasannya,selama inijarang orangyang maurepotmendesain celana dengan potongan aneh-aneh.“Saya bermain dengan palet monokrom, sepertihitam dan putih, serta warna-warna earth toneseperti abu-abu. Kalau sekadar cutting, rasanya saatini semakin banyak label yang bisa membuat cuttingyang aneh-aneh dan unik-unik. Selain palet, sayajuga memikirkan soal desain. Saya ingin desainpakaian yang versatile [serba guna], maksudnyasatu pakaian bisa dipakai untuk berbagai macammodel/gaya. Saya selalu memberikan aksen yang‘tidak biasa’ pada rancangan saya,” kata Tantri.

STRATEGI BISNIS

Di tengah ketatnya persaingan label RTW, Tantrimemiliki dua strategi untuk menjaga eksistensibisnisnya. Pertama, menjaga kualitas bahan. Banyaklabel yang memiliki cutting bagus, tetapi bahannyakurang dan tidak nyaman dipakai. Kedua,menguatkan brand image. “Misalnya mengelolatampilan situs dengan baik agar terlihat profesional.Demikian pula untuk tampilan di Instagram. Semuaini strategi penguatan image branding,” katanya.

Dua strategi ini terbukti berhasil mengantarkan Tantri untuk menambah omzet dari bisnisnya. Produksi busana yang dahulu dimulai dari enam pieces, sekarang meningkat hingga dua lusin untuk satu desain. Omzet rata-rata per bulan mencapai lebih dari Rp50 juta. Meskipun sudah memiliki banyak pelanggan, dan lini bisnis yang mulai dikenal khalayak, tetapi Tantri menjelaskan banyak tantangan yang harus dihadapi dalam menjalankan bisnis RTW. “Tantangan terbesar adalah inovasi. Hal itu memang susah. Jadi harus banyak belajar, dan dapat menghasilkan inovasi secara konsisten agar pelanggan tidak bosan dengan koleksi label kami,” tuturnya. Tantangan kedua adalah memiliki strategi pemasaran dengan menggandeng manajemen yang mendirikan pop-up store, dan menggandeng perusahaan e-commerce yang sudah besar, seperti Zalora atau Berrybenka. “Satu hal yang perlu diperhatikan adalah jangan ‘menyebar’ barang terlalu banyak di perusahaan e-commerce, apalagi kalau yang segmen pasarnya serupa. Juga jangan terlalu banyak memilih mitra.

Pilih saja yang sesuai dengan karakter produk Anda.Yang paling penting, buatlah situs sendiri untuklabel Anda agar memudahkan konsumen melihatdetail dari produk-produk yang Anda jual. Sertakankontak yang bisa dihubungi sejelas mungkin agarmemudahkan konsumen menjangkau Anda.”Para perancang busana senior juga tertarik untukfokus pada bisnis yang satu ini. Salah satu desainerpapan atas yang mengandalkan lini bisnis RTWadalah Itang Yunasz yang memiliki empat labelproduk RTW yakni Tatum, Preview, Kamilaa, danMoshaict. “Terjun di bisnis RTW harus mengetahuitren yang akan diminati masyarakat, dan tersediadengan harga terjangkau,” katanya.

Itang mengatakan sejak menekuni bisnis RTWpada awal 2000-an, banyak hal baru yang harusdipelajari. Tantangan yang terbesar adalah membacapeluang, menggali ide, dan keputusan untukmemulai bisnis dari mana. “Sebagai desainermemang tidak perlu harus jahit atau potong kain,tetapi manajerial dan kreatif perlu mendapatkanperhatian. Hal yang paling penting adalahmenentukan harga yang dapat dijangkau semuaorang tetapi produknya tetap berkualitas.”Di tengah persaingan bisnis RTW, Itangmenerapkan resep jitu yakni jeli melihat peluangdan membaca kondisi perekonomian nasional. Diamencontohkan saat daya beli masyarakat menurunmaka akan memproduksi busana yang mudahdipadupadankan. Selain itu, untuk mendongkrakpendapatan perlu bekerja sama dengan pusatperbelanjaan yang memiliki konsep busana yangpas, dan mempromosikan sekaligus menjualmelalui dunia maya, online shop.

Ketua Asosiasi Musa Widyatmojo menilai maraknya bisnis RTW karena pola pikir masyarakat yang berubah. Dahulu, orang lebih suka datang ke tukang jahit. Sekarang karena tuntutan untuk mengenakan busana yang modis,maka lebih praktis jika membeli busana RTW. Di sisi lain, Musa juga mengamati muncul persaingan tidak sehat dalam bisnis RTW ini. Dia mencontohkan, desainer yang karyanya dijual dipusat perbelanjaan kelas atas, mendapatkan tambahan biaya seperti pajak, sewa, dan listrik. Hal itu yang mempengaruhi harga jual. Sementara itu, yang lain tidak mendapatkan perlakuan yang sama.“Sekarang ini, istilahnya bisa menjual baju tanpa aturan. Di tambah lagi apresiasi masyarakat kurang, mereka lebih memilih baju murah tanpa memperhatikan value-nya. Saya sayangkan hal itu.”

EKSISTENSI LABEL

Konsultan bisnis Groedu Business Consultant & Trainer Frans M. Royan mengakui bisnis RTW sangat menjanjikan. Namun, para pelakunya perlu memperhatikan prinsip pengelolaan dan pemasaran sehingga bisnis yang dirintisnya dapat berkembang dan langgeng. “Persiapan yang perlu adalah konsep pemasarannya seperti apa? Apakah mengunakan jaringan berbentuk saluran seperti memasarkan lewat saluran [pusat perbelanjaan modern], atau secara direct online?” ujarnya. Jika menggunakan gerai maka modal yang dipersiapkan mencapai tiga kali dari omzet yang ditetapkan. Alasannya, para pemilik gerai akan membayar dengan termin per tiga bulan baik secara kredit atau konsinyiasi. Sementara itu, jika dijual secara online, maka modal yang dipersiapkan hanya sekali omzet saja.Setelah itu, tambahnya, perlu dipikirkan lebih dalam mengenai target pasar dan kesesuaian desain produk yang dijual. Frans mengatakan guna memenangkan persaingan di lini usaha ini, pelakunya perlu memahami betul tren fesyen terbaru. “Harga menjadi hal penting untuk memenangkan persaingan,” katanya.

Hal lain yang perlu dijaga adalah para pelakunya memiliki kecermatan dalam pemasaran. Jangan hanya menggunakan cara konvensional. Memanfaatkan juga online yang mulai diakrabi publik.

DIENA LESTARI Setahun belakangan, preferensi penikmat fesyen di Indonesia mulai mengalami UTO Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia pergeseran. Jika tadinya para fashionista lokal sangat gandrung de ngan luxury brand internasional, saat ini selera mereka beralih ke produk-produk premium buatan para desainer lokal. (Bisnis Indonesia)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s