Transaksi omnichannel sulit terdeteksi ketika konsumen menemukan produk melalui website, media sosial, atau iklan digital, tetapi akhirnya melakukan pembelian di toko fisik maupun marketplace. Situasi ini sering membuat bisnis owner menilai bahwa website dan media sosial tidak memberikan hasil penjualan. Padahal, bisa jadi kanal digital tersebut justru menjadi alasan utama konsumen mengenal, mempertimbangkan, dan akhirnya membeli produk.
Menurut pendekatan strategi bisnis yang diterapkan oleh Groedu Konsultan Manajemen Usaha, penjualan saat ini tidak selalu dapat dinilai hanya dari tempat transaksi terakhir terjadi. Konsumen dapat berinteraksi dengan beberapa kanal terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan pembelian. Karena itu, bisnis owner perlu memahami bahwa website, media sosial, marketplace, WhatsApp, dan toko fisik merupakan bagian dari perjalanan pelanggan yang saling terhubung.
Perilaku konsumen saat ini tidak lagi berjalan dalam satu jalur yang sederhana. Mereka dapat melihat produk di Instagram, membaca spesifikasi di website, membandingkan harga di marketplace, bertanya melalui WhatsApp, lalu datang langsung ke toko untuk membeli. Ada juga konsumen yang menemukan produk melalui konten media sosial, tetapi memilih checkout di marketplace karena merasa lebih nyaman menggunakan voucher, gratis ongkir, atau metode pembayaran yang tersedia.
Yuk baca juga artikel ini strategi digital marketing efektif untuk meningkatkan bisnis di era online
Mengapa Transaksi Omnichannel Sering Tidak Terlihat
Banyak bisnis masih menilai kinerja pemasaran digital berdasarkan transaksi yang langsung tercatat di website atau berasal dari satu tautan tertentu. Ketika pengunjung website tidak langsung checkout, atau konten media sosial tidak menghasilkan transaksi yang terlihat, kanal tersebut dianggap kurang efektif.
Masalahnya, perjalanan konsumen tidak selalu dapat dilacak dengan mudah.
Misalnya, seorang konsumen melihat produk furnitur di Instagram. Ia kemudian mengunjungi website untuk membaca ukuran, material, dan pilihan warna. Beberapa hari kemudian, ia datang ke toko bersama keluarganya dan melakukan pembelian secara langsung. Dalam laporan toko, transaksi tersebut hanya tercatat sebagai penjualan offline. Website dan Instagram yang sebelumnya membantu meyakinkan konsumen tidak terlihat kontribusinya.
Hal serupa juga terjadi ketika konsumen melihat produk dari website resmi, tetapi memilih membeli melalui Shopee, Tokopedia, atau marketplace lainnya. Pemilik bisnis dapat melihat adanya transaksi di marketplace, tetapi belum tentu mengetahui bahwa keputusan tersebut berawal dari artikel website, video Reels, katalog Instagram, atau iklan yang pernah dilihat konsumen.
Fenomena ini sering terjadi dalam strategi omnichannel, yaitu ketika konsumen menggunakan beberapa saluran informasi sebelum bertransaksi melalui kanal yang paling nyaman bagi mereka. Dengan demikian, transaksi offline atau marketplace sebenarnya dapat dipengaruhi oleh aktivitas digital, meskipun kontribusinya tidak selalu muncul secara langsung dalam laporan penjualan.

Website dan Media Sosial Tidak Hanya Berfungsi sebagai Toko Online
Kesalahan umum yang sering dilakukan bisnis owner adalah menganggap bahwa website dan media sosial hanya berhasil apabila langsung menghasilkan transaksi.
Padahal, fungsi kanal digital jauh lebih luas. Website dapat menjadi tempat konsumen memeriksa kredibilitas bisnis, mempelajari spesifikasi produk, membaca artikel edukatif, melihat alamat toko, hingga memastikan bahwa perusahaan tersebut benar-benar dapat dipercaya.
Sementara itu, media sosial berperan besar dalam membuat konsumen mengenal produk, mengingat merek, melihat manfaat penggunaan, membaca komentar pelanggan, dan merasa lebih dekat dengan bisnis.
Dalam pendampingan bisnis, Groedu Konsultan Manajemen Usaha melihat bahwa banyak keputusan pembelian tidak langsung terjadi setelah konsumen melihat promosi. Konsumen sering membutuhkan waktu untuk membandingkan, mencari informasi tambahan, berdiskusi dengan keluarga atau tim, hingga akhirnya memilih bertransaksi melalui toko fisik maupun marketplace.
Dengan kata lain, kanal digital dapat berfungsi sebagai:
- Sumber pertama konsumen mengenal produk.
- Tempat konsumen mencari informasi sebelum membeli.
- Penguat kepercayaan sebelum datang ke toko.
- Pengingat merek ketika konsumen siap bertransaksi.
- Pendorong konsumen memilih produk di marketplace.
Apabila konsumen akhirnya membeli secara offline, kontribusi kanal digital tetap ada, meskipun tidak seluruhnya dapat muncul di laporan transaksi online.
Penjualan Offline Bisa Dipengaruhi oleh Kinerja Omnichannel
Dalam bisnis yang memiliki website, media sosial, marketplace, WhatsApp, dan toko fisik, penjualan tidak seharusnya hanya dibaca berdasarkan kanal terakhir tempat transaksi terjadi.
Sebuah pembelian di toko fisik mungkin terjadi karena konsumen sebelumnya:
- Menonton video produk di Instagram.
- Menemukan artikel website melalui pencarian Google.
- Melihat review atau testimoni pelanggan.
- Membandingkan harga melalui marketplace.
- Menghubungi admin melalui WhatsApp.
- Datang ke toko setelah merasa yakin.
Karena itu, peningkatan penjualan offline setelah aktivitas digital berjalan lebih konsisten tidak boleh langsung dianggap sebagai kejadian yang terpisah. Ada kemungkinan bahwa konten, website, iklan, dan media sosial telah membantu membentuk kepercayaan konsumen hingga mereka siap membeli.
Bagi bisnis owner, kondisi ini menjadi tantangan karena tidak semua kontribusi marketing dapat terlihat secara langsung dalam angka konversi digital. Di sinilah Groedu Konsultan Manajemen Usaha menekankan pentingnya membaca kinerja pemasaran secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan jumlah transaksi yang muncul dari satu kanal tertentu.
Mengapa Bisnis Owner Sulit Memprediksi Transaksi Ini
Transaksi omnichannel sulit diprediksi karena konsumen tidak selalu memberikan informasi mengenai sumber awal mereka mengenal produk. Kasir di toko mungkin hanya mencatat barang yang dibeli dan nilai transaksi, tanpa menanyakan apakah pelanggan sebelumnya melihat produk dari Instagram, Google, website, iklan, atau marketplace.
Di sisi lain, sistem analitik website hanya mampu membaca aktivitas yang terjadi di dalam website. Apabila konsumen keluar dari website lalu membeli di toko, melalui telepon, WhatsApp, atau marketplace, transaksi tersebut tidak otomatis terhubung dengan aktivitas digital sebelumnya.
Akibatnya, bisnis owner dapat mengalami beberapa kesalahan penilaian, seperti:
- Menganggap media sosial tidak menghasilkan penjualan.
- Mengurangi anggaran promosi karena transaksi online terlihat rendah.
- Mengabaikan website karena pembelian lebih banyak terjadi di toko.
- Tidak menyadari bahwa marketplace mendapatkan manfaat dari promosi digital.
- Mengukur marketing hanya berdasarkan penjualan langsung.
Padahal, promosi digital sering kali bekerja pada tahap mengenalkan, meyakinkan, dan mengarahkan konsumen, sebelum penjualan benar-benar terjadi.
Cara Mengukur Dampak Omnichannel dengan Lebih Bijak
Tidak semua transaksi omnichannel dapat dilacak secara sempurna. Namun, bisnis tetap dapat memperkecil area yang tidak terlihat dengan membangun sistem pengukuran yang lebih baik.
1. Tanyakan Sumber Informasi kepada Pelanggan
Bisnis dapat menambahkan pertanyaan sederhana pada saat transaksi, seperti: “Mengetahui produk kami dari mana?” Jawaban pelanggan dapat dicatat oleh kasir atau admin dalam sistem penjualan.
Data sederhana ini dapat membantu bisnis mengetahui apakah pelanggan datang dari Instagram, website, TikTok, marketplace, rekomendasi orang lain, atau kunjungan langsung.
2. Gunakan Kode Promo Berdasarkan Kanal
Bisnis dapat menggunakan kode promo khusus untuk website, Instagram, TikTok, WhatsApp, atau iklan tertentu. Walaupun tidak menangkap seluruh transaksi, metode ini dapat membantu melihat kanal mana yang sering mendorong pembelian.
3. Evaluasi Semua Kanal Secara Bersamaan
Data dari toko fisik, marketplace, WhatsApp, website, dan media sosial perlu dievaluasi sebagai satu rangkaian. Jangan hanya melihat jumlah checkout website, tetapi perhatikan pula peningkatan kunjungan toko, pertanyaan pelanggan, pencarian merek, transaksi marketplace, repeat order, dan produk yang semakin sering ditanyakan.
4. Bangun Database Customer yang Lebih Terstruktur
Bisnis perlu mencatat data pelanggan, sumber informasi, produk yang diminati, frekuensi pembelian, serta kanal transaksi yang digunakan. Dengan database yang lebih rapi, bisnis dapat membaca pola perjalanan pelanggan dengan lebih baik.
5. Tentukan Indikator Marketing yang Realistis
Tidak semua aktivitas marketing harus langsung dinilai dari transaksi. Konten edukasi, artikel website, video pengenalan produk, dan media sosial juga dapat dinilai dari peningkatan kunjungan, interaksi, pencarian merek, pertanyaan calon pelanggan, hingga kunjungan ke toko.
Melalui analisis yang tepat, Groedu Konsultan Manajemen Usaha dapat membantu bisnis menentukan indikator kinerja yang lebih relevan untuk setiap kanal. Dengan begitu, pemilik usaha tidak terburu-buru menghentikan aktivitas marketing hanya karena transaksi langsung belum terlihat di dashboard digital.
Yuk baca juga artikel transformasi bisnis ritel offline online semakin diperlukan
Jangan Terburu-buru Menyimpulkan Omnichannel Tidak Berhasil
Ketika website ramai dikunjungi, konten media sosial mulai dilihat banyak orang, tetapi transaksi online tidak langsung meningkat, bisnis owner sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa strategi tersebut gagal.
Ada konsumen yang membutuhkan waktu sebelum membeli. Ada yang lebih nyaman datang langsung ke toko. Ada yang melihat konten di media sosial, tetapi melakukan transaksi di marketplace. Ada pula yang hanya mengingat merek hari ini, lalu membeli beberapa minggu kemudian ketika kebutuhannya muncul.
Inilah alasan mengapa strategi omnichannel perlu dipahami sebagai rangkaian pengalaman konsumen, bukan sekadar jalur transaksi.
Website, media sosial, marketplace, WhatsApp, dan toko fisik sebenarnya tidak sedang bersaing satu sama lain. Semua kanal tersebut seharusnya bekerja bersama untuk memudahkan konsumen mendapatkan informasi, membangun kepercayaan, dan melakukan pembelian melalui cara yang paling nyaman bagi mereka.
Omnichannel Membantu Penjualan Meskipun Tidak Selalu Tercatat
Transaksi yang terjadi di toko atau marketplace mungkin tidak selalu dapat diketahui berasal dari website maupun media sosial. Namun, kondisi tersebut bukan berarti aktivitas digital tidak berpengaruh terhadap penjualan.
Justru, dalam perilaku konsumen modern, kanal digital sering menjadi pintu awal sebelum pembelian terjadi di kanal lain. Website membantu konsumen memahami produk. Media sosial membangun perhatian dan kepercayaan. Marketplace memberikan kemudahan transaksi. Toko fisik memberikan pengalaman langsung dan keyakinan terakhir sebelum membeli.
Oleh karena itu, bisnis owner perlu mengubah cara pandang dalam menilai marketing. Jangan hanya menilai keberhasilan dari transaksi yang langsung terlihat di satu kanal. Perhatikan bagaimana seluruh kanal bekerja bersama dalam membantu konsumen bergerak dari mengenal produk hingga akhirnya membeli.
Bagi bisnis yang ingin mengembangkan strategi penjualan online dan offline secara lebih terarah, Groedu Konsultan Manajemen Usaha dapat membantu mengevaluasi perjalanan pelanggan, memperbaiki pencatatan data transaksi, serta menyusun strategi omnichannel yang mendukung pertumbuhan penjualan secara menyeluruh.
Strategi omnichannel yang baik bukan hanya membuat konsumen membeli secara online. Strategi ini juga dapat membantu toko fisik lebih ramai, marketplace lebih dipercaya, dan merek lebih mudah dipilih ketika konsumen siap melakukan transaksi.
Apakah bisnis Anda sudah aktif di website, media sosial, marketplace, dan toko fisik, tetapi masih kesulitan mengetahui kanal mana yang benar-benar mendorong penjualan?
Groedu Konsultan Manajemen Usaha membantu bisnis owner mengevaluasi kinerja marketing, memahami perjalanan pelanggan, menyusun sistem pengukuran omnichannel, serta mengembangkan strategi penjualan online dan offline yang lebih efektif.
Konsultasikan kebutuhan bisnis Anda bersama Groedu Konsultan Manajemen Usaha melalui WhatsApp 0818521172.
Eksplorasi konten lain dari Jasa - Konsultan Manajemen Bisnis, Pemasaran dan Pemasaran digital Surabaya | Call - 0818521172 , 081252982900 (Wa)
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.